• Bali, Indonesia
  • info@ecotourismbali.com
  • Language
  • English
  • Bahasa Indonesia

Meskipun ramainya turis membawa manfaat ekonomi yang signifikan, industri pariwisata, terutama sektor perhotelan, makanan, dan minuman, menghadapi tantangan besar terkait dampak lingkungan dan emisi karbon.

Menjelang akhir tahun, Bali bertransformasi menjadi destinasi utama bagi pelancong dari berbagai penjuru dunia. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengekspresikan optimisme berdasarkan tren peningkatan jumlah wisatawan asing yang berencana merayakan tahun baru di Bali. Ia memproyeksikan kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali di tahun ini dapat mencapai angka 5 juta.

Meskipun ramainya turis membawa manfaat ekonomi yang signifikan, industri pariwisata, terutama sektor perhotelan, makanan, dan minuman, menghadapi tantangan besar terkait dampak lingkungan dan emisi karbon. Ini karena konsumsi energi dan sumber daya air yang berlebih, manajemen limbah yang tidak efektif, serta penggunaan bahan kimia dalam proses pembersihan. Di sisi lain, terdapat juga isu eksploitasi sumberdaya dan berbagai tantangan sosial yang harus ditanggulangi.

Kesadaran akan isu-isu di atas telah menjadi perhatian utama komunitas pariwisata di Bali. Hal ini tercermin dalam penyelenggaraan Eco Tourism Week 2023 oleh Eco Tourism Bali (ETB) bekerja sama dengan The Apurva Kempinski Bali. Acara ini dirancang untuk mendorong pariwisata Bali menuju praktik yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

ETB, yang didirikan oleh Suzy Hutomo dan Rahmi Fajar Harini, adalah inisiatif wirausaha sosial yang berkomitmen untuk berkolaborasi dengan beragam pemangku kepentingan pariwisata Bali dalam menjadikan daerah itu sebagai destinasi wisata berkelanjutan global pada tahun 2030.

Eco Tourism Week 2023 menjadi ajang bagi ETB untuk menggandeng berbagai pihak dalam mendukung transformasi menjadi destinasi yang Hijau (Berkelanjutan) dan Bersih (Bebas Karbon). Dalam acara ini, para peserta mendiskusikan berbagai strategi dan kerjasama untuk mencapai target Pariwisata Bali Net Zero Emission. Acara tersebut juga menjadi tempat pertukaran informasi penelitian dan praktik terbaik di sektor pariwisata, khususnya dalam bidang perhotelan, serta promosi produk dan layanan berkelanjutan dari perusahaan-perusahaan lokal.

Di antara perwakilan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang hadir pada Eco Tourism Week 2023 terlihat Deputi Deputi Bidang Industri dan Investasi serta Direktur Standardisasi dan Sertifikasi Usaha. Sedangkan pelaku usaha yang memaparkan praktik terbaiknya termasuk Booking.com, Ekosistem Hotels & Villas, serta beberapa perusahaan startup.

Momen penting lainnya dalam acara tersebut adalah peluncuran Climate Friendly Travel (CFT) Chapter Bali, yang menegaskan komitmen terhadap pariwisata yang berkelanjutan dan ramah iklim. Merupakan kerjasama dengan SUNx Malta, tujuannya meningkatkan kesadaran mengenai perubahan iklim dan mendorong praktik pariwisata yang berkelanjutan di Bali.

Konsep CFT atau Perjalanan Ramah Iklim, mengandalkan dua pilar utama: jalur hijau dan jalur bersih. Jalur hijau, yang berfokus pada keberlanjutan, menekankan pada tindakan spesifik yang diambil oleh perusahaan dan masyarakat untuk mengikuti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGS). Kerangka kerja global ini meliputi 17 tujuan, 169 target, dan 231 indikator, dengan SDG13 Climate Action sebagai tujuan utama. Sementara itu, jalur bersih mengacu pada kesesuaian aktivitas dan operasi bisnis dengan Persetujuan Paris tentang perubahan iklim, yang bertujuan menjaga kenaikan suhu global agar tidak melebihi 2 derajat Celcius dibandingkan era sebelum Revolusi Industri, idealnya tidak lebih dari 1,5 derajat Celsius.

Eco Tourism Bali terus berupaya mendukung pariwisata berkelanjutan melalui inisiatif seperti Eco Tourism Week, program Regenerasi Bali yang meliputi penanaman mangrove dan restorasi terumbu karang, serta Verifikasi Berkelanjutan untuk Bisnis Akomodasi dan Restoran. Komponen Verifikasi Keberlanjutan mencakup konservasi sumber daya (termasuk air  dan energi), pengurangan polusi (termasuk emisi gas rumah kaca dan limbah), konservasi keanekaragaman hayati, ekosistem, dan fauna, serta manfaat sosial bagi komunitas setempat (termasuk pendidikan dan penciptaan lapangan kerja).

Di momen Hari Ibu, inisiatif yang digagas Eco Tourism Bali melalui Suzy Hutomo sebagai Direktur Eksekutif, dan Rahmi Fajar Harini sebagai Direktur Operasional, merefleksikan tema Hari Ibu ke-95: “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju.” Usaha-usaha ini diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada semua pihak untuk terus mendukung peran perempuan dalam mencapai kemajuan Indonesia.

Penulis : Amanda Katili Niode, Ph.D.