Home
blog
Bali Dikritik Kotor oleh Presiden Prabowo! Tapi Bali Masih Punya Harapan untuk Bangkit

Bali selalu punya tempat di hati setiap wisatawan. Melihat Bali dan mendengar cerita keindahan Bali dari orang lain otomatis menggerakan kita untuk memasukan Bali ke dalam list liburan. Tapi apa jadinya setelah menabung susah payah dan akhirnya bisa pergi ke Bali ternyata di Bali sendiri lingkungannya tidak ideal untuk orang-orang berwisata? Kesal pasti, hal yang manusiawi, kok. 

Sama halnya dengan yang Presiden Prabowo Subianto lakukan di Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026. Presiden Prabowo menegur secara terbuka jajaran pemerintah daerah Bali, termasuk gubernur dan para bupati, terkait persoalan sampah yang dinilai sudah mencemari lingkungan dan mengancam keberlanjutan pariwisata nasional.

Sumber foto: Kompas.com

Belum lagi persoalan di Bali lainnya, yang belakangan ini santer terdengar seperti alih fungsi lahan yang masif, pembangunan yang tidak bertanggung jawab, bencana banjir yang mengintai dan masih banyak lagi. Jangan sampai Bali kehilangan identitasnya yang indah juga ramah dan nyaman untuk wisatawan karena persoalan ini.

Sumber foto: Eco Tourism Bali, Sarinbuana Eco Lodge

Kabar baiknya, berbagai lapisan masyarakat di Bali tidak tinggal diam. Masih hadirnya hotel dan restoran di Bali yang memikirkan keberlanjutan dan memilih menjadi hotel dan restoran ramah lingkungan. Dari memakai material bangunan yang ramah lingkungan, zero waste, memperhatikan konservasi keanekaragaman hayati, tidak menggunakan plastik sekali pakai, dan masih banyak lagi. Sebanyak 37 hotel dan restoran sudah mendapatkan sertifikasi ramah lingkungan Eco Climate Badge, dan terus meningkatkan praktik keberlanjutannya dari tahun ke tahun. 

Kegiatan menanam mangrove https://ecotourismbali.com/regenerative-bali/

Tidak hanya industri bisnis pariwisata, ada juga yang peduli memperbarui Bali dengan cara menanam mangrove juga coral, bersih-bersih pantai, melepaskan tukik dan kegiatan baik lainnya. Di Regenerative Bali Program 2025 saja, sudah berhasil menanam 4,635 mangrove untuk melindungi garis pantai.

Di ranah UMKM juga ada yang terus menjaga Bali dengan memproduksi barang ramah lingkungan, memberdayakan komunitas lokal dan terus menginspirasi di setiap aksinya untuk Bali.

Jeg gass*, semua itu jadi angin segar untuk kita kalau orang-orang di Bali juga tidak tinggal diam  melihat “rumahnya perlahan karam” dan siap ambil peran untuk Bali yang lebih baik. Jadi menurut kamu bagaimana masa depan Bali?


Jeg gas: maju aja (Bahasa Bali)

Penulis: Anisa Aulia