Home
blog
Seribu Mangrove untuk Pesisir Bali: Solusi Tangguh

Di tengah pesisir selatan Bali, tempat air pasang surut, sebuah kekuatan dahsyat bekerja di bawah permukaan: mangrove.

Sering tak terlihat dan diremehkan, mangrove adalah pahlawan alam. Akarnya yang meliuk-liuk menyatukan garis pantai, menyaring air laut, menyerap karbon, dan menyediakan tempat berlindung bagi spesies laut yang tak terhitung jumlahnya. Para penjaga pesisir ini mengingatkan kita bahwa kekuatan tak selalu meraung, ia berlabuh diam-diam di bawah ombak.

Juli ini, dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia (26 Juli), Eco Tourism Bali beraksi bersama Suparma Tbk, Luisa, dan Daniel untuk memulihkan ekosistem vital ini. Inti dari gerakan ini adalah Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, yang terletak di dalam kawasan konservasi Tahura Ngurah Rai seluas 1.373 hektar di Denpasar. Di sini, 1.000 bibit mangrove—Rhizophora apiculata dan Rhizophora mucronata—akan ditanam. Kedua spesies ini dipilih karena perannya yang kuat dalam membangun ketahanan di sepanjang garis pantai:

–Rhizophora apiculata tumbuh subur di tanah lunak berlumpur dan mengikat tanah untuk mencegah erosi.

–Rhizophora mucronata membentuk sistem akar padat yang menahan badai dan memelihara kehidupan laut.

Namun, kisah ini bukan hanya tentang pohon, melainkan tentang manusia dan tujuan kita bersama.

Sorotan khusus dari inisiatif bulan ini adalah impian tulus dari Luisa & Daniel, yang mengintegrasikan penanaman mangrove ke dalam perayaan pernikahan mereka. Melalui Program Regenerative Bali, sebuah pohon mangrove ditanam untuk menghormati setiap tamu mereka, mengubah momen cinta menjadi warisan hidup bagi garis pantai Bali. Sebagaimana dinyatakan dalam pesan mereka:
“Seiring cinta kita tumbuh semakin dalam, pohon ini akan tumbuh subur dan mendukung ekosistem indah di sekitarnya.”

Di Bali Selatan, ETB bekerja sama erat dengan masyarakat setempat yang menjaga kawasan konservasi mangrove seluas 48 hektar, yang merupakan rumah bagi 47 keluarga lokal yang telah lama hidup harmonis dengan ekosistem tersebut. Di bawah kepemimpinan I Wayan Pasek Pastika, kawasan ini kini menjadi model ekowisata yang memadukan penghidupan masyarakat dan konservasi.

Seperti inilah pariwisata regeneratif. Bukan tentang mengurangi kerusakan, melainkan tentang berbuat lebih banyak kebaikan. Bukan hanya menanam pohon; melainkan menanam harapan, penyembuhan, dan masa depan di mana budaya dan alam tumbuh bersama.

Seiring bergulirnya bulan Juli, semoga kerja keras akar bakau yang tenang menginspirasi kita semua: untuk berlabuh pada tujuan, tumbuh dengan niat, dan berdiri kokoh bersama demi Bali, demi planet ini, dan demi generasi mendatang.