• Bali, Indonesia
  • info@ecotourismbali.com
  • Language
  • English
  • Bahasa Indonesia

Komitmen untuk Pariwisata Berkelanjutan dan Ramah Iklim

  • 01 Januari 2024 06:51 AM
  • Eco Tourism Bali

MANGUPURA,NusaBali – Sebuah upaya bersama untuk mendorong pariwisata yang berkelanjutan dan ramah iklim, Eco Tourism Week 2023 resmi dimulai pada Sabtu (16/12) siang.

Acara yang berlokasi di The Apurva Kempinski Bali, Nusa Dua, Kecamatan Kuta Selatan, Badung ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan para pemangku kepentingan pariwisata, tetapi juga menjadi simbol komitmen terhadap keberlanjutan dan pelestarian lingkungan di destinasi wisata terkenal ini.

Acara yang mengusung tema ‘Climate Awareness for a Sustainable and Climate Friendly Bali Tourism’ Eco Tourism Week 2023 memiliki tujuan untuk mengajak semua pihak ikut terlibat, mulai dari pemerintah, industri pariwisata, hingga masyarakat umum, untuk bersatu dalam upaya menjaga Bali sebagai destinasi yang lestari dan ramah iklim.

Co-Founder Eco Tourism Bali, Rahmi Fajar Harini menerangkan jika tahun ini merupakan Eco Tourism Week yang kedua kalinya dan fokus utama mereka adalah kesadaran iklim untuk pariwisata yang berkelanjutan dan ramah iklim.

Pada tahun sebelumnya, Rahmi mengungkapkan jika pihaknya telah memusatkan perhatian pada indeks keberlanjutan untuk hotel. Namun, tahun ini, mereka berhasil meluncurkan indeks untuk restoran pada bulan September, yang bertepatan dengan World Tourism Day. “Industri pariwisata memiliki peran penting dalam mitigasi risiko terhadap perubahan iklim. Fokus kegiatan ini adalah untuk mempertemukan semua pemangku kepentingan. Tema yang kami angkat menghubungkan sustainability dengan perubahan iklim. Industri pariwisata memiliki peran besar dalam mengatasi risiko perubahan iklim,” ujar Fajar Harini disela-sela kegiatan Eco Tourism Week 2023 pada Sabtu (16/12) sore.

Salah satu contoh nyata yang dia singgung adalah kebakaran TPA Suwung beberapa waktu lalu. Hari ini menjelaskan bahwa masalah ini terkait dengan perubahan iklim. Temperatur yang lebih tinggi menyebabkan sampah organik menghasilkan gas metana, yang dapat menyebabkan kebakaran.

“Mengatasi isu-isu seperti kebakaran TPA Suwung adalah bagian dari upaya kami untuk meningkatkan kesadaran. Jika kita tidak bertindak, risiko akan meningkat, dan ini dapat mengancam daya tarik pariwisata Bali,” tambah Fajar Harini. ris

Sumber: nusabali.com