The Meru Eco Tourism Week berkolaborasi dengan The Meru, ACT! Project, dan Wonderful Indonesia Sustainable Tourism Industry Forum (WI-STIF) sudah selesai diselenggarakan pada tanggal 30-31 May 2026 di Bali Beach Convention Center. Selain menjadi momentum Hari Keanekaragaman Hayati, The Meru Eco Tourism Week 4th Edition juga menjadi bukti nyata arah perubahan pariwisata yang kini terus bergerak ke arah yang lebih ramah lingkungan.
Seperti Ibu Menteri Pariwisata Widiyanti ucapkan saat membuka acara The Meru Eco Tourism Week 4th Edition mengatakan penerapan prinsip ESG yang kuat semakin menjadi faktor penting dalam menarik investasi.

“Kami berharap semakin banyak pelaku usaha pariwisata yang tergerak untuk menerapkan prinsip ESG dan memandang aspek keberlanjutan sebagai investasi strategis jangka panjang,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti.
Dari The Meru Eco Tourism Week 4th Edition kita berhasil mengumpulkan:
- 988 pengunjung
- 20 narasumber (Dari pemerintah, ahli skala internasional & industry leaders, sampai best practice perwakilan hotel dan restoran)
- 6 Panel Discussions (presentations, firesidechat)
- 51 Exhibitors
- 43 penerima Eco Climate Badge Award
- 10 Eco Business Pitch Finalists (Most Impactful: Pristinz, Most Innovative: Shiva Industries, Most Favorite: Noovoleum)
Tidak hanya itu, The Meru Eco Tourism Week 5th Edition juga membuktikan membuat acara berskala nasional juga bisa meminimalisir dampak lingkungan yang dihasilkan dari sebuah acara.

Konservasi Air & Pengurangan Plastik Sekali Pakai
Sebagai bagian dari komitmen untuk mengurangi dampak lingkungan, The Meru Eco Tourism Week 4th Edition bekerja sama dengan WaterHub untuk menyediakan stasiun isi ulang air minum selama acara berlangsung. Inisiatif ini mendorong peserta untuk menggunakan botol minum isi ulang dan mengurangi ketergantungan pada botol plastik sekali pakai. Selama dua hari penyelenggaraan acara, sebanyak 82,5 liter air minum telah disediakan, yang setara dengan menghindari penggunaan 165 botol plastik sekali pakai dan mengurangi emisi karbon sebesar 13,66 kg.
Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya
Pengelolaan sampah menjadi salah satu fokus utama dalam penyelenggaraan The Meru Eco Tourism Week 4th Edition. Total sampah yang dihasilkan selama acara mencapai 175,97 kg, yang terdiri dari 167 kg sampah organik, 4,45 kg sampah daur ulang, dan 4,52 kg sampah residu. Melalui pengelolaan yang tepat, sampah organik tidak berakhir di tempat pembuangan akhir, melainkan diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat diolah oleh Z Bio. Upaya ini berhasil menghindari emisi sebesar 351 kg CO₂e. Selain itu, sampah organik tersebut menghasilkan 23 kg larva Black Soldier Fly (BSF) yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, serta 17 kg pupuk organik untuk mendukung pertanian lokal. Sementara itu, sebanyak 4,45 kg sampah daur ulang berhasil dipulihkan dan dikelola bersama Bali Waste Cycle.

Memahami Jejak Karbon Acara
Bekerja sama dengan Wise Steps Consulting, The Meru Eco Tourism Week 4th Edition melakukan pengukuran jejak karbon acara yang mencakup transportasi, konsumsi energi, dan akomodasi. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa acara selama dua hari ini menghasilkan total emisi sebesar 106,70 ton CO₂e atau setara dengan 0,177 ton CO₂e per peserta. Kontributor terbesar berasal dari transportasi peserta dengan total emisi 104 ton CO₂e. Sementara itu, konsumsi listrik menghasilkan 0,95 ton CO₂e, akomodasi panitia menghasilkan 0,75 ton CO₂e, dan penggunaan energi non-listrik (diesel) menghasilkan 0,34 ton CO₂e. Jumlah emisi tersebut setara dengan kebutuhan restorasi sekitar 4.420 pohon mangrove melalui skema penyerapan karbon jangka panjang menggunakan spesies mangrove Rhizophora.
Memilih Material yang Lebih Berkelanjutan
Komitmen keberlanjutan dalam acara ini juga diwujudkan melalui pemilihan material yang lebih ramah lingkungan. Sebagai pengganti gelang kertas sekali pakai, The Meru Eco Tourism Week 4th Edition menggunakan lanyard yang dapat digunakan kembali serta sistem cap sebagai identitas peserta. Pendekatan ini membantu mengurangi limbah sekali pakai sekaligus memungkinkan penggunaan kembali pada acara mendatang. Dari lebih dari 850 peserta yang hadir, sebanyak 85% lanyard berhasil dikembalikan setelah acara berakhir. Angka ini menunjukkan tingginya partisipasi dan kesadaran peserta dalam mendukung praktik penyelenggaraan acara yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Terima kasih kepada semua pihak yang turut mensukseskan The Meru Eco Tourism Week 4th Edition. Eco Tourism Bali sebagai pihak penyelenggara berharap semangat keberlanjutan dan kolaborasi terus digaungkan untuk menuju perubahan pariwisata yang lebih baik.
Bonus, foto-foto orang di balik The Meru Eco Tourism Week 4th Edition:








